Lamongan, Ontimenusantara.com-Banyak cara untuk mempertahankan budaya peninggalan leluhur kita, tentu banyak cara, bukan hanya dari acara formil pemerintahan maupun event lainya yg digelar secara besar-besaran.
Namun yang paling mendasar yaitu dengan menghadirkan acara-acara kecil masyarakat, seperti
hajatan pernikahan maupun khitanan.
Salah satu daerah Jawa Timur, desa Munungrejo, Kecamatan Ngimbangin, Lamongan ini mendatangkan, Langen Tayub, pimpinan Margo laras.
Dikatakan, Sugiono alias pak Ismawati mengadakan hajatan khitanan dengan mendatangkan Langen Tayub, samahalnya melestarikan budaya Jawa Timuran.
“Di era yang serba modern ini, anak bangsa jangan sampai terkontaminasi oleh budaya barat sepenuhnya. Karena cikal bakal bangsa ini tergantung generasi muda sekarang ini, “imbaunya.
Di luar dari persoalan pelestarian budaya, Sugiono mengatakan terkait kebangsaan untuk mengikat sebuah kebhinekaan yang rentan terprovokasi oleh budaya maupun dn sentimen ekonomi ditengah masyarakat.
“Untuk merajut, dan mendiagnosa atas persoalan bangsa, terutama kondisi Lamongan disegala sektornya. Kegelisahan yang sama adalah bagian dari lem perekatnya. Bahwa dengan tegas ketimpangan dan ketidakadilan pembagian pembangunan memang tidak merata,” katanya.
Sugiono juga menampilkan, Merefleksikan dan mengulang kisah lama. Bahwa kaum penggerak harus dirangkul dan dikumpulkan bersama. Untuk dilakukan penguatan karakter buldingnya. Dengan asupan pengetahuan yang lebih organik, murni dan bukan rekayasa. Agar menjadi kader penggerak peradaban tumbuh dengan membawa nilai nilai Pancasila.
“Kopdar dan silaturahmi yang dibangun ini adalah usaha merawat obor kesadaran. Agar obor tetap terjaga daya terangnya. Tidak ikut meredup dan padam seperti yang lainnya. Namun pergerakan gumbul srawung atau saling kunjung ini mampu menjadi pola pijak dan tumpu dalam pembangunan jiwa generasi bangsa Hingga nyala api jiwa kesadaran masyarakatnya bisa mempengaruhi peradaban Lamongan menjadi terang benderang, “imbuhnya di Mangunrejo, Lamongan baru-baru ini
“Yang salah adalah yang mengerti dan memahami. Namun tidak tahu diri, untuk bersikap dan peduli. Dalam menata dan memperbaiki, dalam mengingatkan dan membenahi. Sebab konsep amal makruf nahi mungkar harus dikembangkan kesagala sektor tatanan. Bukan hanya berlaku dalam menjaga pertemanan, namun juga harus dialirkan dan dipancarkan kepada pemerintah dan penentu kebijakan.
Mengakhiri perbincangan, Sugiono menghaturkan, Salam waras dan cegah ingkar. Agar kita bisa menjadi benar benar sehat lahir batin. Dan tidak terus berhianat terhadap janji- janji kita sebagai manusia yang membawa predikat amanah sebagai Khalifah, “pungkasnya belum lama ini.
(Sunarto)
Lestarikan Budaya Jawa, Hajatan Warga Hadirkan Langen Tayub Margo Laras
